PEMKOT TELAH MENGADAKAN SEMINAR KEADILAN RESTORATIF

Senin, 4 Sepember 2017 | 15:38 WIB

          Dalam rangka melakukan pencegahan dan penanggulangan tindak pidana anak, pemerintah Kota Semarang melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak Kota Semarang, mengadakan seminar Keadilan Restoratif Untuk Sekolah Kota Semarang.

       Kegiatan yang di hadiri dari berbagai elemen masyarakat yang antara lain, Siswa-siswi SMA sederajat Kota Semarang, Bhabinkamtibmas, Babinsa, Guru BK, Kepala Sekolah, Kecamatan Kota Semarang, Perwakilan dari Pengadilan Negeri Semarang, Kejaksaan negeri Semarang, Polrestabes Semarang ini sangat menarik sekali. Para peserta sangat antusias mengikuti acara yang dimulai dengan Deklarasi Gerakan Bersama Semarang Tanggap dan Peduli Bullying. Dalam deklarasi siswa-siswa menolak segala bentuk perilaku bullying di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Mencegah dan menghentikan perilaku bullying, fisik, verbal, psikis dan cyber di lingkungan sekolah.

          Acara ini dibuka langsung oleh Wakil Walikota Semarang Hj. Hevearita Gunaryanti, dalam sambutannya mengatakan anak didik harus kreatif dan bisa berbuat hal-hal positif dalam lingkungan sekolah. “Budaya bullying harus di hentikan, mulai menghina, merendahkan, mengolok-olok teman sebayayanya, kreatiflah buatlah meme-meme dengan gambar lucu, stop bullying”, jelasnya.

         “Semua pihak dari keluarga sampai penegak hukum hendaknya senantiasa bisa bekerja sama dalam pencegahan tindak pidana anak. Karena bukan hanya tanggung jawab pemerintah kota semarang saja, akan tetapi semua stekholder harus terlibat dalam rangka pencegahan, penanggulangan kasus tindak pidana anak”, tambah Ita panggilan akrabnya.

        Seminar yang menghadirkan Prof. Dr. Suteki, SH.,M.Hum sebagai salah satu nara sumber menguraikan dalam paparannya, Prinsip Keadilan Restorasi adalah keseimbangan kepentingan korban dan pelaku, upaya penyelesaian diluar jalur peradilan, bertujuan memuaskan rasa keadilan masyarakat, kepolisian sebagai mediator berintegritas, transparan, dialogis-komunikatif, tanpa paksaan (voluntary principle), dan murah.

           Pemateri lain dalam seminar ini adalah Prof. Dr. H. Muhibbin, M.Ag yang juga merupakan Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang. Beliau lebih banyak berbicara pencegahan tindak pidana anak, dengan pendekatan spiritual. “keluarga merupakan faktor yang sangat dominan , dalam membentuk karakter anak. Anak harus diajari sejak dini dalam lingkungan keluarga, adab sopan santun, keluar rumah mengucapkan salam, berpamitan, kejujuran, karena hal ini akan membentuk karakter anak yang baik dikemudian hari”, urai muhibbin.

         “Secara Psikologis anak yang berhadapan dengan hukum (ABH), baik anak sebagai pelaku, korban, saksi tindak pidana harus disembuhkan mentalnya. Pembalasan atau hukuman penjara bukan jalan terbaik dalam menyelesaikan kasus-kasus anak”, terang Putri Marlenny, S.Psi.,M.Psi Psikolog, yang marupakan pemateri lainnya dalam seminar. Dosen UIN Walisongo Semarang sekaligus Psikolog ini, menguraikan lebih dalam tentang pemulihan psikologi bagi pelaku dan korban tindak pidana meliputi perbaikan relasi sosial, saling memberikan empati, hubungan terapeutik, modifikasi perilaku. “Karena korban tindak pidana, di kemudian hari sangat berpotensi dapat menjadi pelaku suatu tindak pidana juga apabila tidak ditangani secara benar”, tandanya. (Team RDRM)

© 2017 Geber Septi - Pemerintah Kota Semarang. All rights reserved